LGBT, Sebuah Kebangkitan Spiritual

LGBT, Sebuah Kebangkitan Spiritual

LGBT, Gerakan Pencerahan dan Kebangkitan Spiritual

LBGT, Lesbian Gay Bisexual Transgender, saya tidak akan mengulas dari sudut pandang aneka ragam kitab yang dianggap suci oleh masing-masing orang, saya tidak akan membahas dari sudut pandang medis karena banyak teori dan bahasa-bahasa aneh yang saya jamin anda tidak mengerti.

Anda suka sosis sapi, saya suka mie ayam. Itu masalah kesukaan, tidak bisa dipaksakan anda harus suka mie ayam. Andan tidak suka mie ayam bisa karena anda alergi gatal-gatal makan daging ayam, anda juga tidak suka rasanya, jadi jangan dipaksa, anda akan muntah, dan tidak senang. Saya tidak suka sosis sapi karena kolestrolnya tinggi, kalau dipaksa makan ya saya sakit. Demikian analogi hal kesenangan, tidak dapat dipaksa, tidak dapat diharuskan bagi orang lain.

lgbt

Bagi kita yang hetero mungkin aneh, bahkan jijik melihat seorang gay berciuman didepan kita, tapi itulah fakta, itulah naluri biologis fisik mereka. Sama seperti hal nya kita tidak nyaman dengan ajaran agama, atau tidak nyaman masuk ke tempat ibadah yang tidak seiman dengan kita. Kita harus belajar menerima perbedaan, bukan artinya kita harus masuk ke agama yang tidak kita imani, bukan artinya kita harus menjadi gay. Tetapi kita semua harus belajar menerima dan netral atas sudut pandang orang lain

Biasanya yang suka memaksa dan merasa paling benar adalah orang fanatik dengan kecerdasan spiritual yang kerdil, ia tidak mau tau kebenaran diluar sudut pandangnya, selalu merasa diri dan agamanya paling benar.

Orang-orang yang anti pernikahan sesama jenis adalah orang-orang yang anti melihat orang lain senang, tidak punya kasih kepada sesamanya manusia. Dasar pernikahan itu adalah cinta kasih, bukan berdasarkan fisik dan kelamin.

lgbt 2

Dengan mengakui kesenangan orang lain, mengakui pernikahan sejenis, anda sudah bertumbuh secara spiritual, senang melihat orang lain senang, bukan marah kepada yang tidak sependapat dengan anda.

Ini adalah kebangkitan spiritual, disaat seorang manusia mau membuka pikirannya, mau menerima perbedaan, mau menerima bahwa kaun gay, lesbian, menikah dan diberkati. kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan kita juga. Itulah praktek saling mengasihi, jangan iri dengan kesenangan saudaramu sesama manusia.

Saya bukan gay, saya sepenuhnya mendukung kebebasan berekspresi dan kebahagiaan seluruh insan di dunia, saya mendukung pernikahan sejenis. Seperti sang Buddha katakan, “Semoga seluruh mahluk berbahagia”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on TumblrShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestDigg this

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *